English 
Live Chat  


Alat Belajar Mengajar | Asuransi Pendidikan | Belajar Bahasa Inggris untuk Anak | Gadget Edukatif | IT Solution & Education | Konsultan Pendidikan | Kursus/Sekolah Menggambar, Melukis & Mewarnai | Mainan Edukatif | Media Partner | Museum | Pendidikan Profesi & Magister | Penerbit & Toko Buku | Sekolah Alam | Sekolah Bahasa | Sekolah Bermain - Kelompok Bermain & Taman Kanak-Kanak | Sekolah Desain Fashion | Sekolah Desain Grafis | Sekolah Internasional | Sekolah Model | Sekolah Musik & Vokal | Tabungan Pendidikan

Artikel & Berita


 
Kategori :
 

 
Cari :
 

  •  


 
Artikel
 
Ramai-ramai Cari Biaya Sekolah
14 Juni 2008

Ramai-ramai Cari Biaya Sekolah

Sabtu, 14 Juni 2008 | 01:56 WIB

PINGKAN ELITA DUNDU dan NELI TRIANA


Sofia Anwar (42) bersama seorang anak balita perempuan tampak berada di antrean beberapa nasabah di Kantor Pegadaian Senen, Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat, Rabu (11/6) siang. Kalung emas seberat 25 gram lengkap dengan bandul bermata berlian mungil serta cincin bermata berlian cukup besar miliknya akan diagunkan demi segepok uang kontan.


Sebenarnya, sekarang belum terlalu perlu uang kontan. Akan tetapi, sudah banyak permintaan biaya dari putri sulung saya yang lulus SMP, seperti uang perpisahan, kenang- kenangan untuk sekolah, dan awal Juli nanti harus bayar uang masuk SMA. Saya pikir, mending menggadaikan sekarang biar bisa siap-siap, kata Sofia.


Sofia, perempuan keturunan Arab yang mengaku tinggal di kawasan Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, menambahkan, boleh dikata ia adalah pelanggan tetap Pegadaian Senen. Dalam satu tahun, bisa dua hingga tiga kali ia mengagunkan barang berharga miliknya, bahkan pernah ia menggadaikan mobilnya. Namun, ia mengelak jika disebut tergolong kesulitan ekonomi sehingga harus ke pegadaian.


Sofia mengatakan, bersuamikan seorang pegawai negeri sipil, sekaligus pemasok tekstil kecil-kecilan di salah satu kios di Pasar Tanah Abang. Baginya, uang adalah modal yang harus terus diputar agar kebutuhan keluarga tercukupi. Demi menunjang usaha itu, terkadang butuh suntikan dana segar yang tidak lain didapat dari menggadaikan barang.


”Pendapatan suami saya lumayan. Buktinya, rumah, mobil, dan biaya tiga anak sekolah selalu ada. Namun terkadang saat dibutuhkan, uang kontan itu masih nyangkut, entah di modal usaha atau saat suami belum gajian. Jadi saya terpaksa memanfaatkan barang yang ada dulu biar bisa jadi uang kontan,” kata Sofia.


Sujito (36), warga Kelurahan Gagak, Ciledug, Kota Tangerang, juga terpaksa menggadaikan perhiasan emas peninggalan orangtuanya. Uang itu diperlukannya untuk menambah biaya sekolah dua anaknya yang pada tahun ajaran 2007/2008 secara bersamaan masuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sujito berencana memasukkan anaknya di sebuah sekolah dasar negeri di Jalan Jurangmangu Barat dan SMP negeri di Ciledug, Tangerang.


”Katanya sekolah gratis, tetapi ternyata bayar juga. Saya harus menyediakan uang maksimal Rp 3 juta untuk biaya masuk, termasuk uang seragam kedua anaknya. Sementara saya cuma punya Rp 1 juta, masih kurang Rp 2 juta lagi,” kata Sujito, karyawan kontrak sebuah industri plastik di Tangerang.


Ayah tiga putra dan putri ini tidak punya pilihan selain menggadaikan perhiasan itu di Pegadaian Cabang Ciledug. ”Karena ini perhiasan peninggalan dari orangtua, saya tidak berani menjualnya. Kalau digadaikan, kalau ada rezeki saya bisa menebusnya lagi,” kata Sujito.


Dari menggadaikan perhiasan tersebut suami dari Martini (30) ini memperoleh Rp 1.750.000. ”Masih kurang Rp 250.000 lagi,” jelas Sujito yang berharap kekurangan tersebut akan terpenuhi setelah dia menerima gaji pada akhir Juni ini. Martini tidak bekerja sehingga kehidupan keluarga sepenuhnya bergantung dari gaji bersih yang diterima Sujito, Rp 2.000.000 per bulan.


Tidak identik miskin


Irianto, Manajer Komunikasi Perusahaan Perum Pegadaian, pernah mengatakan, Pegadaian saat ini memang tidak lagi identik dengan kemiskinan. Para nasabah Pegadaian pasti memiliki barang berharga sebagai agunan. Barang-barang berharga itu pun lengkap dengan surat-surat resmi, seperti surat jual-beli, BPKB, atau sertifikat.


Menurut Irianto, nasabah Pegadaian kini juga bermacam-macam, tidak hanya nasabah yang butuh uang kontan demi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Di kota-kota besar, Pegadaian menjadi solusi mendapat dana segar untuk tambahan modal usaha, uang pendidikan, atau tambahan biaya berobat.


Data dari Perusahaan Perum Pegadaian, pinjaman nasabah di kota besar berkisar antara Rp 1 juta dan Rp 50 juta. Perputaran uang cukup cepat karena sebagian besar nasabah mampu mengembalikan pinjaman dalam waktu satu-tiga bulan saja, termasuk membayar bunga sebesar 0,75 persen-1,3 persen per 15 hari.


Sumber : KOMPAS






 
Artikel & Berita lainnya di Artikel
 
[10 Agustus 2008] Potensi Pengajaran Bahasa Inggris
Potensi Pengajaran Bahasa Inggris Senin, 11 Agustus 2008 | 01:22 WIB Tuswadi Koesnadi, S.Pd Pengajaran bahasa asing di sekolah dasar bukan...[selengkapnya]
[23 Juni 2008] Mengapa Siswa Mencontek?
Mengapa Siswa Mencontek? Senin, 23 Juni 2008 | 00:15 WIB Ujian dan ulangan umum sudah lewat. Hasil ujian dan ulangan itu merupakan salah ...[selengkapnya]
[14 Juni 2008] Ramai-ramai Cari Biaya Sekolah
Ramai-ramai Cari Biaya Sekolah Sabtu, 14 Juni 2008 | 01:56 WIB PINGKAN ELITA DUNDU dan NELI TRIANA Sofia Anwar (42) bersama seorang anak b...[selengkapnya]
[28 April 2008] Sekolah Gratis, Pepesan Kosong
Begitu mendengar kata gratis, rasa senang langsung menjalar, mata mengerjap berbinar sambil dibarengi sedikit keraguan. Benar gratis? Kata gratis bany...[selengkapnya]
[12 Februari 2008] Guru yang Menjadi CEO
Guru yang Menjadi CEO   JAKARTA...[selengkapnya]

Halaman. 1 dari 10  [Berikutnya] ::   Ke Halaman 


 

 
User ID      Password  
Lupa Password ? isi alamat email Anda di sini    

 
Ingin Menambahkan Info gratis klik di sini
 

 
Utama  |  Tentang Kita  |  Institusi Pendidikan  |  Beasiswa  |  Lowongan Kerja  |  Artikel & Berita  |  Kompetisi dan Lomba  |  Isi Info  |  Hubungi Kami
 
Copyright © Edukasi indonesia 2007